Selasa, 31 Maret 2009

Pedoman Umum Instalasi Linux

Pedoman Umum Instalasi Linux

Menginstalasi Linux sulit ? Tidak lagi. Mungkin dua-tiga tahun yang lalu memang benar karena pilihan distro yang terbatas dan belum nge-trend-nya penggunaan Linux sebagai sistem operasi desktop sehingga instalasi Linux hanya bisa dilakukan para opreker atau para system administrator yang menggunakan Linux untuk server. Booming Linux yang terjadi mulai tahun 1999 telah mendorong lahirnya distro-distro baru yang menekankan pada kemudahan instalasi dan konfigurasi. Distro-distro lama, umumnya yang berbasis perusahaan komersial pun berlomba-lomba mempermudah metode instalasinya. Sekarang ini hampir semua disto populer menggunakan metode instalasi berbasis grafis yang mirip instalasi Windows.

Sebelum menginstalasi Linux, hendaknya dilakukan persiapan sebagai berikut :

  1. Fisik dan mental, dan waktu yang cukup luang
  2. Catat dan kalau bisa hafalkan konfigurasi teknis PC anda, mulai dari tipe prosesor, chipset motherboard, kapasitas harddisk, ukuran RAM, merk dan spek teknis VGA card (besar RAM, tipe chipset), sound card (chipset, IRQ, I/O address, DMA), monitor (tipe, resolusi max, refresh rate vertikal/ horisontal), mouse (port, jumlah tombol), keyboard, printer, CD-ROM drive, ethernet card, modem, dan apapun yang melekat ke PC anda.
  3. Siapkan media source instalasi. Umumnya, dan sangat disarankan, untuk melakukan instalasi menggunakan CD. Kecuali distro-distro terbaru (RedHat 7, SuSE 7, Mandrake 7.x, yang menggunakan 2 CD) CD yang digunakan hanya CD pertama (CD instalasi).
  4. Persiapkan space harddisk untuk menampung Linux, gunakan software partisi seperti MS-DOS FDisk (hanya untuk hardisk kosong), FIPS, atau PartitionMagic (disarankan versi 4 ke atas) bagi yang ingin menggunakan Linux bersama-sama sistem operasi lain (biasanya Windows). Sediakan space minimum 500 MB, disarankan 1 GB ke atas. Catatan : Bila anda menggunakan PartitionMagic anda bisa langsung membuat partisi ext2 (sistem file Linux) dan swap, dan memformatnya sekaligus.
  5. Persiapkan media boot. Jika PC anda bisa disetel untuk booting dari CD-ROM, lakukan setting agar sistem di-boot dari CD-ROM lebih dahulu. Jika tidak bisa, lakukan instalasi dari Windows (menggunakan loadlin), atau membuat bootdisk (menggunakan program RAWrite, cari di CD instalasi, lalu gunakan image yang tersedia di \img), dan jangan lupa menyetel urutan boot ke floppy (A:) terlebih dulu.

Instalasi Linux secara umum dibagi menjadi :

  1. Inisialisasi hardware, yang meliputi : deteksi mouse, keyboard, adapter SCSI (kalau ada).
  2. Pengaturan partisi, dengan asumsi bahwa Linux akan digunakan bersama-sama sistem operasi lain (di sini diasumsikan Windows). Bagilah partisi kosong (yang tidak ditandai sistem file FAT/FAT32/DOS/Win atau partisi kosong yang sengaja disiapkan) minimum menjadi dua partisi, / (root) dan swap. Supaya lebih mudah, buatlah partisi swap lebih dahulu, besarnya kurang lebih dua kali kapasitas RAM, maksimum 128 MB per partisi (partisi swap bisa lebih dari satu), baru sisanya untuk partisi / (root). Untuk distro terbaru, biasanya disediakan opsi partisi otomatis.
  3. Pemilihan paket software, menginstal satu distro berarti menginstal software aplikasinya. Anda bisa memilih satu per satu, menggunakan sistem menu (namun ingat, untuk distro Debian ada 4000 paket!) atau menggunakan sistem preconfigured, seperti pada Caldera atau SuSE. Jika anda bingung, lewati saja tahapan ini, selanjutnya anda dapat menggunakan tool packaging untuk menambah / mengurangi paket yang terinstal.
  4. Inisialisasi sistem, meliputi pemilihan daerah waktu, pemilihan password root (administrator), penambahan user (jika perlu), konfigurasi jaringan, dan konfigurasi GUI (X Server), serta konfigurasi boot loader (pemilih sistem operasi). Setelah selesai, sistem akan di-boot ulang. Jangan lupa mengeluarkan media boot (bootdisk, CD-ROM) agar proses instalasi tidak berulang lagi.

Metode di atas bersifat sangat umum. Untuk masing-masing distro, akan dijelaskan di bawah ini :

  1. RedHat(juga Trustix, Mandrake) : Yang menggunakan distro RedHat di bawah versi 6.1 dan Mandrake di bawah versi 7.0 (metode instalasi non-grafis), hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : penggunaan Disk Druid untuk mempartisi, lakukan delete partition, new, masukkan besar space, tipe (Linux ext2 atau swap), mount point (/), grow (dipilih untuk partisi /).
  2. SuSE(di bawah versi 6.3) : Program partisinya agak membingungkan, prinsipnya hampir sama, buat swap dulu, baru root. Distro ini menyediakan konfigurasi software paket (basic, all, popular, programming, etc). Selesai instalasi anda harus login sebagai root dan menjalankan YaST untuk mengkonfigurasi ulang sebelum reboot. Catatan Penulis : untuk dapat menggunakan instalasi grafis (versi 6.3 ke atas), PC anda harus mempunyai RAM minimum 48 MB.
  3. Slackware: Software partisinya menggunakan Cfdisk (tampilan teks), gunakan menu yang tersedia di bawah. Ketikkan setup setelah selesai mempartisi untuk memulai instalasi. Pilih menu dari atas ke bawah satu per satu, dan ikuti instruksi sampai selesai.
  4. Debian/GNU: Metode instalasinya paling 'ribet' dan tidak disarankan bagi pemula dan yang kurang berminat ngoprek serta tak punya banyak waktu. Setelah mempartisi, anda harus mengkonfigurasi ulang modul-modul kernel, menginstal base system, langsung reboot, baru memilih paket software. Disarankan menginstal MC (Midnight Commander, versi GNU dari Norton Commander) labih dulu, baru menginstalasi yang lain menggunakan MC.
  5. Caldera (juga EasyLinux): Instalasinya sudah 100% grafis sehingga nyaris tidak ada kesulitan berarti bagi pemula. Anda bahkan bisa bermain tetris sambil menunggu semua paket software terinstalasi.

Jumat, 13 Maret 2009

Tri Kayaparisudha

Tri Kaya Parisudha berasal dari kata “Tri” yang berarti tiga, “Kaya” berarti perilaku atau perbuatan, dan “Parisudha” yang berarti baik, bersih, suci atau disucikan. Tri Kaya Parisudha artinya tiga perilaku manusia berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang harus disucikan (Mudera cs dalam Suhardana, 2007: 25). Pikiran, perkataan, dan perbuatan yang disucikan dimaksudkan perilaku manusia yang baik atau perilaku manusia itu tidak boleh dikotori dengan perilaku yang tidak baik. Ketiga perilaku yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik harus selalu dijadikan pedoman khususnya bagi umat Hindu dan bagi umat manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan sesamanya, dan munusia dengan maha pencipta.
Tri Kaya Parisudha dapat juga diartikan sebagai tiga dasar prilaku manusia yang harus disucikan, yaitu manacika, wacika, dan kayika. Manacika berarti pikiran baik, wacika berarti perkataan baik, dan kayika berarti perbuatan yang baik. Adanya pikiran yang baik akan mendasari perkataan yang baik, sehingga terwujudlah perbuatan yang baik pula ( Sukartha dalam Suhardana, 2007: 26). Jadi pada dasarnya perkataan dan perbuatan bersumber atau berawal dari pikiran. Pikiran yang baik akan menuntun manusia berkata atau berbuat yang baik pula. Dari prinsip itu, maka yang paling awal harus dikendalikan manusia adalah pikirannya. Hal-hal yang mempengaruhi pikiran harus selalu terjaga, seperti kestabilan jiwa atau emosi, kebutuhan akan kesehatan jiwa dan raga, termasuk kebutuhan akan estetika. Dengan jiwa yang tenang orang dapat mengendalikan pikirannya sehingga dapat berpikir dengan jernih yang akhirnya akan dicetuskan dalam bentuk perkataan yang baik dan perbuatan yang baik.
Kitab Suci Weda mengajarkan agar umat manusia menjauhkan diri dari kejahatan dan perbuatan dosa serta menyingkirkan kedengkian. Umat manusia agar selalu berbuat dharma, dengan ucapan yang manis hendaknya dan selalu berbuat kebaikan. Manusia semestinya juga selalu menyucikan pikiran dan budhinya (Suhardana, 2007: 107). Pernyataan tersebut sama seperti yang diajarkan dalam Tri Kaya Parisudha yaitu berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik. Berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik menjadi dasar dan pedoman hidup bagi umat Hindu dan bagi umat manusia pada umumnya, sehingga kerukunan, ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat dapat tercipta sesuai dengan tujuan agama Hindu dan tujuan pendidikan pada umumnya.

Faktor-Faktor yang Menghambat dan Mendukung dalam Menanamkan Nilai-Nilai Tri Kaya Parisudha sebagai Landasan Pendidikan dalam Membangun Akhlak Mulia Peserta Didik di Sekolah
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia memiliki kelebihan berupa manas atau manah. Manas atau manah itu berarti pikiran. Pikiran adalah inti dari segalanya. Dari ketiga unsur Tri Kaya Parisudha, pikiran adalah paling pokok, yang dapat menimbulkan adanya perkataan maupun perbuatan. Karena itu pikiran adalah paling penting untuk dikendalikan. Jadi pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang aktif berpikir. Dari kenyataan itu, manusia memiliki dua karakter atau sifat pikiran yaitu pikiran baik dan pikiran buruk. Pikiran yang baik menjadi pedoman untuk berkata dan berbuat yang baik, sebaliknya pikiran yang buruk akan menggiring seseorang untuk berkata dan berbuat yang tidak baik.
Tri Kaya Parisudha yaitu berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik, hendaknya dapat dilakukan dengan sebaik mungkin. Secara empiris kenyataan hidup manusia, sering kita jumpai dua sifat manusia yaitu manusia yang berperilaku baik dan manusia yang berperilaku buruk. Hal ini juga sering dijumpai di sekolah, yaitu peserta didik yang berperilaku baik dan peserta didik yang berperilaku tidak baik atau kurang baik. Perilaku peserta didik yang baik maupun tidak baik sama-sama berpeluang dapat berubah. Perilaku baik bisa lebih baik lagi atau bisa menjadi tidak baik, sebaliknya perilaku yang tidak baik dapat berubah menjadi baik atau menjadi lebih buruk lagi. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat mendukung dan menghambat dalam penanaman nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha.
Faktor-faktor yang dapat menghambat dan mendukung dalam penanaman nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha, antara lain:
1. Faktor sosial budaya
Sosial budaya merupakan prilaku atau kebiasaan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Prilaku atau kebiasaan-kebiasaan hidup manusia akan berpengaruh terhadap proses pembelajaran, termasuk dalam penanaman nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Anak yang tumbuh di lingkungan masyarakat yang memiliki tata krama bermasyarakat yang baik, memiliki sopan santun dan memiliki sikap saling menghargai, tentu anak tersebut juga akan terbiasa melihat dan melakukan perilaku-perilaku yang baik. Demikian juga, anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang tidak harmonis, tentu juga akan berpengaruh terhadap masalah perkembangan psikologis si anak yang cenderung mengarah ke hal-hal negatif.
2. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang dimaksud berpengaruh terhadap proses penanaman nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha adalah faktor lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pada faktor sosial budaya telah disinggung tentang kebiasaan masyarakat dan orang tua yang dapat mempengaruhi perkembangan pendidikan anak. Contoh perilaku lain yang akan berdampak pada prilaku si anak, misalnya: anak yang tumbuh di lingkungan masyarakat suka minum minuman keras (mabuk-mabukan), anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang merokok dan anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang gemar berjudi. Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang dapat menghambat dalam penanaman nilai-nilai etika kepada peserta didik. Sebaliknya, anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga baik-baik akan sangat mendukung dan memudahkan di dalam menanamkan nilai-nilai etika.
Bagaimana dengan lingkungan sekolah? Sekolah merupakan tempat untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Lingkungan sekolah yang mendukung proses pembelajaran adalah memiliki lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan baik, termasuk dalam penanaman nilai-nilai etika untuk mengembangkan akhlak mulia peserta didik.
3. Faktor perkembangan teknologi
Pengaruh global sangat memungkinkan peserta didik mudah terkontaminasi oleh hal-hal yang dapat merusak prilaku mereka, seperti pengaruh teknologi berupa HP, Laptop dan media internet yang memudahkan dalam mentransformasi suatu pesan dalam bentuk gambar maupun video atau film. Di satu sisi, hasil-hasil teknologi sangat diperlukan untuk memudahkan dan mempercepat aktivitas-aktivitas manusia termasuk aktivitas dalam belajar, sedangkan di sisi lain hasil-hasil teknologi dapat menjerumuskan penggunanya ke hal-hal negatif. Sebagai contoh hasil teknologi berupa HP yang merupakan alat komunikasi yang memiliki fasilitas-fasilitas canggih, seperti musik, gambar, film, kamera dan fasilitas internet. Dengan HP, manusia dapat melakukan komunikasi dengan cepat walaupun rekan komunikasi berada ditempat yang jauh atau di negara lain. Tetapi apabila si pengguna alat tersebut, tidak dilandasi oleh akhlak mulia yang memadai tentu akan mudah terjerumus melakukan hal-hal yang aneh atau negatif dengan fasilitas yang ada pada HP.
Untuk menghindari dan merubah penyimpangan-penyimpangan perilaku, maka diperlukan usaha bagi kalangan pendidik di sekolah dalam mengembangkan potensi akhlak mulia peserta didik, yaitu dengan penanaman nilai-nilai etika seperti nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Tri Kaya Parisudha dewasa ini masih cukup berperan baik dalam menumbuhkan akhlak mulia kepada peserta didik seperti yang diamanatkan dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini dapat dilihat kenyataan peserta didik di sekolah-sekolah yang ada di Bali penyimpangannya relatif kecil kalau dibandingkan dengan peserta didik yang ada di sekolah-sekolah di luar Bali, misalnya di Jawa Timur siswa putri membentuk Geng Nero dengan perilaku-perilaku yang tidak baik seperti yang dilansir oleh media televisi.

Upaya yang dapat Dialakukan dalam Menanamkan Nilai-Nilai Tri Kaya Parisudha sebagai Landasan Pendidikan dalam Membangun Akhlak Mulia Peserta Didik di Sekolah
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Tri Kaya Parisudha terdiri dari tiga bagian, yaitu: (1) Manacika atau berpikir yang baik, (2) Wacika atau berkata yang baik, dan (3) berbuat yang baik. Sebagai umat manusia yang merupakan mahluk termulia, hendaknya kita menjalankan tiga aktivitas suci tersebut sehingga kemuliaan kita sebagai manusia tetap terjaga. Selain itu, dengan melakukan tiga aktivitas tersebut diharapkan sikap saling menghargai antar sesama, perdamaian, kerukunan, kebahagiaan, dan segala hal yang baik akan segera terwujud.
Manacika yang berarti pikiran yang baik atau suci. Berfikir baik tanpa kekotoran, dan tanpa ada rasa kebencian atau kemarahan. Hindarkanlah pikiran mengecilkan dan mencurigai orang lain, akibat rasa sombong dan merasa lebih tinggi. Karena pikiran itu, ibarat menanam benih celaka. Upaya kongkritnya adalah dengan selalu berpikir positif dalam setiap kondisi, seperti:
1. Biasakanlah berpikir dan bersikap welas asih atau kasih sayang terhadap sesama mahkluk dan memupuknya secara terus menerus.
2. Belajarlah mengendalikan diri, agar rasa iri dan dengki dapat ditiadakan dan tidak timbul lagi dalam pikiran.
3. Sibukkanlah diri dengan rajin bekerja, sehingga tidak ada kesempatan bagi pikiran untuk ngelamun atau memikirkan yang bukan-bukan. Sibuk dengan pekerjaan sendiri, tentunya tidak akan ada peluang untuk memikirkan hal yang aneh-aneh.
4. Tanamkan terus pikiran dan sikap pengendalian diri yang baik, sehingga kita mudah memberi maaf kepada orang lain dan tidak cepat marah maupun putus asa.
5. Selalulah berpikir yang baik dan benar, sehingga nafsu atau keinginan buruk yang timbul karena pengaruh lingkungan dan panca indriya, dapat ditiadakan.
6. Biasakanlah berpikir, berkata dan berbuat yang baik, sehingga kita dapat menjadi manusia yang berbudi luhur dan beriman teguh antara lain dengan melaksanakan tapa, brata, yoga, dan Samadhi.
Wacika yang berarti perkataan yang baik/suci. Upaya kongkritnya adalah dengan berkata sopan terhadap sesama tanpa memandang statusnya. Status yang dimaksud termasuk umur, jabatan, posisi dan sebagainya. Berawal dari pikiran, akan timbul perkataan. Perkataan adalah sabda pemikiran yang akan berlanjut menjadi tindakan. Tutur kata yang santun, enak, sedap dan tidak keras. Maksud yang diutarakan jelas dan disusun secara teratur. Untaian kata mengundang keakraban dan mudah untuk diterima. Kata-kata dipilih yang santun dan tak berkepanjangan. Sikap dan gaya bicara, cukup seperlunya tidak perlu dilebih-lebihkan, yang penting, apa yang diuraikan membuat senang siapapun yang mendengarkannya.
Kayika yang berarti perbuatan yang baik/suci. Upaya kongkrit dari kayika adalah dengan melakukan kegiatan membantu sesama manusia baik berupa phisik maupun non-phisik. Perilaku atau perbuatan harus dilaksanakan dengan baik dan benar. Setiap perbuatan, apakah perbuatan baik ataukah perbuatan buruk akan dapat menimbulkan apa yang dinamakan buah karma. Perbuatan yang baik akan menimbulkan buah karma yang baik. Sebaliknya perbuatan yang buruk akan menimbulkan karma buruk. Buah karma itu adalah pahala atau hasil dari perbuatan kita. Semua manusia tentu tidak ingin memetik buah karma buruk. Semua orang ingin mendapatkan buah karma baik. Karena itu janganlah berbuat yang tidak baik yang dapat menciptakan buah karma buruk.
Menurut orang bijak, waspadalah terhadap pikiran anda, karena ia akan menjadi kata-kata anda. Waspadalah terhadap kata-kata anda, karena ia akan menjadi tindakan anda. Waspadalah terhadap tindakan anda, karena ia akan menjadi sikap anda (http://arsip.pontianakpost.com).
Bagaimana mengimplikasikan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha kepada peserta didik di sekolah? Di atas telah dijelaskan langkah konkrit dari berpikir, berkata dan berbuat yang baik. Penanaman nilai-nilai tersebut tidak serta merta hanya dilingkungan sekolah saja, melainkan harus dimulai dari keluarga peserta didik termasuk juga lingkungan masyarakat. Peserta didik yang tumbuh di lingkungan keluarga yang baik, tentu akan lebih mudah dalam menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Menanamkan nilai-nilai etika Tri Kaya Parisudha tidak dapat dilakukan hanya sekedar dengan tutur kata saja, namun seorang guru harus menjadi tauladan dalam mengimplikasikan nilai-nilai etika Tri Kaya Parisudha. Dalam melakukan kegiatan pembelajaran seorang guru harus mengantarkan materi pelajaran dengan tutur kata yang santun dan perilaku yang sopan, sehingga peserta didik terbiasa mendengar dan melihat langkah konkrit dari pelaksanaan nilai-nilai etika yang terkandung dalam Tri Kaya Parisudha. Dengan tauladan para guru akan dapat mempengaruhi perilaku-perilaku peserta didik.

Manfaat Penanaman Nilai-Nilai Tri Kaya Parisudha sebagai Landasan Pendidikan dalam Membangun Akhlak Mulia Peserta Didik di Sekolah
Tri Kaya Parisudha atau berpikir yang baik, berkata baik dan berbuat baik tentu mempunyai tujuan yang sangat baik bagi peserta didik dalam kehidupan masyarakat, khususnya umat Hindu. Secara umum Tri Kaya Parisudha dapat dikatakan mempunyai tujuan seperti dibawah ini :
1. Untuk mengembangkan sifat dan sikap jujur dan setia dalam berpikir, berkata maupun berbuat bagi bagi peserta didik dan masyarakat pada umumnya.
2. Untuk menumbuh kembangkan sikap mental yang bertanggung jawab tanpa diawasi oleh orang lain.
3. Untuk menumbuhkan kesadaran guna berbuat baik dan mengenal berbagai akibat yang dapat timbul dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang dilakukan.
4. Untuk memberi petunjuk yang baik dan perlu dimiliki serta disadari dalam bergaul, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
5. Untuk mengajarkan agar manusia selalu waspada dan hati-hati terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan, karena baik pikiran, perkataan maupun perbuatan itu dapat menyebabkan orang lain tidak senang, sedih atau marah, sehingga pada gilirannya dapat menimbulkan kesusahan pada diri sendiri.
Penanaman nilai-nilai Tri Kaya Parisudha di lingkungan pendidikan sangat bermanfaat dalam pengembangan potensi peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia. Manfaat-manfaat yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Bagi peserta didik yang memiliki karakter atau sifat baik akan menjadi manusia lebih potensial dan untuk memperkokoh iman agar tidak mudah kena pengaruh yang buruk.
2. Bagi peserta didik yang memiliki karakter atau sifat tidak baik, melalui penanaman nilai-nilai Tri Kaya Parisudha akan menjadi harapan berubah menjadi manusia yang lebih baik, sehingga tidak terjerumus ke hal-hal yang lebih buruk lagi.
3. Peserta didik yang patuh dengan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha sehingga menjadi manusia berakhlak mulia akan lebih mudah dalam mengembangkan potensi-potensi lainnya, seperti kecerdasan, kreatiftas, tanggung jawab, dan sebagainya.
4. Peserta didik yang patuh dengan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha akan selalu hidup rukun, tentram dan damai dalam lingkungan masyarakat.